by

API dan KEBAKARAN

Pengertian api sudah banyak di kemukakan oleh berbagai pihak akan tetapi masih banyak orang yang belum mengerti penjelasan api tersebut. Api merupakan salah satu jenis reaksi kimia yaitu reaksi oksidasi yang cepat. Api dapat tercipta dari tiga unsur utama yaitu unsur panas, oksigen, dan bahan mudah terbakar.  Bahan yang mudah terbakar biasanya dapar menghasilkan panas dan cahaya.

Pengertian Kebakaran

Kebakaran dapat diartikan sebagai suatu peristiwa bencana yang berasal dari api  yang dapat menyebabkan kerugian fisik, mental, sosial, dan finansial berupa harta benda, cidera, dan bahkan kematian. Kerugian dari kebakaran juga dapat mencangkup kerugian bangunan, fasilitas sarana dan prasarana. Kerugian yang bersifat kerugian mental yaitu adanya rasa takut, kecemasan, shock, trauma dan lain sebagainya.

Pengertian kebakaran yaitu adanya api yang muncul dapat berupa api kecil atau api besar di suatu tempat, dan waktu tertentu yang kehadirannya tidak diinginkan dan bersifat merugikan juga sulit dikenddalikan. Kebakaran ini dapat terjadi dengan mudah di lingkungan tempat kerja karena terdapat banyak bahan berbahaya yang mudah terbakar. Kebakaran ini menjadi kondisi darurat di suatu lingkungan perusahaan.

Kebakaran yang terjadi di suatu perusahaan akan menimbulkan banyak kerugian baik bagi tenaga kerja maupun bagi pihak perusahaan. Kerugian ini dapat berupa kehilangan harta benda ataupun yang lebih parah yaitu adanya korban jiwa. Hal ini dapat terjadi karena kebakaran sulit dikendalikan dan sulit dipadamkan. Oleh karena itu perlu adanya pengetahuan tentang bagaimana kebakaran dapat terjadi untuk mencegah terjadinya kebakaran di lingkungan tempat kerja. Tahap – tahap terjadinya kebakaran yaitu sebagai berikut :

  1. Kebakaran mulai muncul

Kebakaran muncul karena adanya api yang di hasilkan dari reaksi dari panas, oksigen dan bahan yang terbakar. Ketika kemunculan api, proses ini dapat dipadamkan dengan pertolongan pertama seperti menyiram dengan cukup air sampai api padam sehingga api tidak manjalar ke tahap kebakaran selanjutnya yang lebih besar. Tindakan pemanadam kebakaran pada tahap ini sangat menolong agar api tidak bertambah besar sehingga perlu dilakukan tindakan yang tepat dalam proses pemadaman.

  • Kebakaran mulai tumbuh

Tahap ini api sudah mulai membakar bagian yang lebih besar daripada sebelumnya. Kondisi ini akan diperparah dengan adanya bahan yang mudah terbakar disekitar api sehingga menyebabkan api membesar dan panas meningkat pada tahap ini biasanya disebut flashover. Potensi kerugian yang dialami suatu perusahaan kemungkinan lebih besar karena api yang besar ini dapat merugikan dan membakar asset yang ada. Kebakaran juga memungkinkan memakan korban yang tidak diinginkan. Korban dapat terkena luka ringan dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

  • Kebakaran puncak

Tahapan kebakaran puncak yaitu semua bahan di suatu tempat sudah dalam keadaaan terbakar secara keseluruhan. Kebakaran ini menyebabkan panas yang sangat tinggi yang disebut panas puncak. Kebakaran ini sangat membahayakan bagi semua pihak karena dapat menimbulkan korban jiwa yang sangat tinggi.

  • Kebakaran reda

Kebakaran reda terjadi ketika sudah mengalami penurukan oksigen di suatu tempat kebakaran. Kebakaran ini juga dapat terjadi karena bahan yang terbakar sudah habis tak tersisa. Tahapan ini memiliki waktu yang sangat lama disbanding dengan tahapan sebelumnya. Akan tetapi jika disekitar tempat kebakaran reda terdapat bahan mudah terbakar yang belum terbakar akan memicu sumber api baru. Kebakaran reda berpotensi menciptakan backdraft. Arti dari backdraft sendiri yaitu adanya ledakan yang terjadi karena masuknya oksigen secara mendadak dari lingkungan luar kebakaran.

Teori Bidang Empat Api (Tetrahedron of Fire)

Teori ini merupakan perkembangan dari teori segitiga api dimana terdapat penemuan baru unsur keempat proses terjadinya api yaitu rantai reaksi kimia. Konsep unsur keempat ini dikenal dengan sebutan tetrahedron of fire. Teori ini hadir dengan adanya penelitian dan pengembangan bahan pemadam dari tepung kimia (dry chemical) dan halon (halogenated hydrocarbon). Jenis bahan pemadan api ini dapat bekerja dengan system memutus rantai reaksi kontinyu dari proses terjadinya api. Teori tetrahedron of fire merupakan terori yang didasarkan dalam pemikiran bahwa dalam panas pembakaran yang normal akan timbul nyala.

Reaksi pembakaran akan membentuk reaksi kimia yang menghasilkan beberapa zat yaitu CO, CO2, SO2, asap dan gas. Hasil lainnya dari pembakaran yaitu terbentuknya radikal bebas dari reaksi oksigen dan hydrogen dalam bentuk hidroksil (OH). Hal ini terjadi ketika duaa gugus OH terpecah menjadi H2O dan radikal bebas O. Unsur O yang radikal ini pada tahap selanjutnya akan berfungsi sebagai umpan atau pancingan pada proses pembakaran sehingga reaksi ini disebut dengan reaksi pembakaran berantai.

Sebab – sebab terjadinya kebakaran

Peristiwa kebakaran dapat terjadi karena beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi kebakasan ini saling berkaitan satu dengan lainnya. Faktor – faktor  sebab terjadinya kebakaran yaitu sebagai berikut:

  1. Kebakaran karena kelalaian manusia

Kebakaran ini dapat terjadi karenaa kurangnya pengetahuan tentang penanggulangan dari kejadian kebakaran. Kurangnya tingkat hati – hati dari seseorang dalam menggunakan alat dan bahan yang mudah menimbulkan api atau mudah terbakar.

  • Kebakaran karena peristiwa bencana alam

Kebakaran karena alam yaitu timbulnya api yang besar akibat dari cuaca, gunung berapi yang mengalami aktifitas erupsi atau ledakan, sinar matahari, gempa bumi, petir, angin dan topan yang terjadi di suatu tempat.

  • Kebakaran karena penyalaan sendiri

Kebakaran ini dapat terjadi karena bahan mudah terbakar yang ada di tempat penyimpanan atau gudang disimpan secara berdekatan dan kurang aman. Peristiwa ini sering terjadi di gudang penyimpanan bahan kimia yang mana bahan ini dapat mudah bereaksi dengan udara,  air, dan bahan sejenisnya. Bahan ini bersifat mudah terbakar daan mudah meledak.

  • Kebakaran karena unsur kesengajaan

Kebakaran ini terjadi dengan tujuan sabotase untuk menimbulkan huru-hara yang biasanya terjadi karena alasan politis. Kebakaran juga bisa muncul dalam mencari keuntungan pribadi dari oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab. Tujuan kebakaran ini juga dapat terjadi karena ingin mendapatkan ganti rugi melalui asuransi kebakaran atau untuk jalan taktis dalam memenangkan pertikaian dengan cara tidak baik.

Klasifikasi Kebakaran

Kebakaran dapat di golongkan berdasarkan jenis bahan bakarnya. Adanya pengetahuan tentang jenis dari kebakaran ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kebakaran terjadi dan upaya mengurangi kebakaran terjadi di suatu lingkungan. Klasifikasi kebakaran berdasarkan bahan terbakarnya, yaitu sebagai berikut :

  1. Kebakaran bahan padat kecuali logam

Kebakaran ini terjadi pada bahan kertas, kayu, produk tekstil, plastik, karet, dan busa. Kebakaran ini menghasilkan produk akhir arang dan abu.

  • Kebakaran bahan cair dan gas yang mudah terbakar

Kebakaraan ini terjadi pada bahan bensin aspal, gemeuk, minyak, alkohol, gas LPG, dan lain sebagainya. Prinsip dari pemadaman kebakaran ini yaitu menutup permukaan cairan atau gas di permukaan. Bahan pemadam yang cocok yaitu bahan gas dengan prinsip transfer oksigen dan pemutusan reaksi berantai.

  • Kebakaran listrik bertegangan

Kebakaran ini terjadi pada komputer, televisi, radio, penel listrik dan alat lain yang bertegangan tinggi. Aplikasi pemadaman yang cocok yaitu dengan bahan kering seperti tepung kimia atau CO2.

  • Kebakaran bahan logam

Kebakaran ini terjadi pada bahan potassium, sodium, alumunium, magnesium, kalsium, zinc dan lain sebagainya. Bahan pemadam yang cocok yaitu dengan menutup permukaan bahan yang terbakar dab menimbun bahan terbakar. Jika bahan – bahan ini terbakar maka air tidak dapat memadamkannya.

Dasar Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Dasar hukum dalam penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sangat penting dalam menjaga komitmen pelaksanaan program K3 baik tenaga kerja, perusahaan maupun pemerintah. Peran pemerintah dalam program keselamatan dan kesehatan kerja dapat dilihat dari adanya regulasi yang dibuat. Dasar hukum mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yaitu sebagai berikut :

  • Undang – Undangan No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
  • Permenakertrans 02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
  • Permenakertrans 1/MEN/1981 tentang menjadi Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja.
  • Permenakertrans 3/MEN/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja.
  • Kepmenaker 333/MEN/1989 tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja.
  • Kepmenaker 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tenpat Kerja.
  • Undang – Undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
  • Undang – Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badam Penyelenggara Jaminan Sosial.
  • Permenaker 1/MEN/1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Tenaga Kerja Dengan Manfaat Lebih Dari Paket Jaminan Pemeliharaan Dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
  • Surat edaran Menakertrans 01/MEN/1979 tentang Pengadaan Kantin dan Ruang Tempat Makan
  • Peraturan Menteri Perburuhan tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat Kerja.

Pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di suatu perusahaan sangat penting. Ruang lingkup dari program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) memiliki beberapa aspek yang luas dan kompleks. Ruang lingkup dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dijelaskan secara rinci yaitu sebagai berikut :

  1. Penyelenggaraan pelayanan Kesehatan kerja
  2. Sarana

Sarana merupakan segala sesuatu yang menjadi alat yang digunakan dalam mencpai keberhasilan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Alat ini dapat berupa dokumen, alat pelindung diri atau rambu – rambu yang dipasang di lingkungan tempat kerja.

  • Tenaga Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yaitu dapat merupa seorang dokter pemeriksa kesehatan tenaga kerja, dokter perusahaan dan paramedis perusahaan.
  • Organisasi atau manajemen yang mencakup pimpinan unit PKK, pengesahan penyelenggaraan PKK.
  • Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan kerja tenaga kerja (Awal, berkala, khusus dan purna bakti)
  • Pelaksanaan P3K (Petugas P3K, Kotak P3K, dan Isi kotak P3K)
  • Pelaksanaan gizi kerja (pemeriksaan gizi dan makanan tenaga kerja, kantin, catering pengelola makanaan tenga kerja, pengelola dan petugas catering.
  • Pelaksanaan syaraat – syarat ergonomi.
  • Pelaksanaan pelaporan (pelayanan kesehatan kerja, pemeriksaan Kesehatan tenaga kerja, dan penyakit akibat kerja).

Referensi :

https://sistemmanajemenkeselamatankerja.blogspot.com/2013/10/pengertian-api-dan-kebakaran.html
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/125291-S-5708-Audit%20keselamatan-Literatur.pdf
http://ppnisardjito.blogspot.com/2012/06/dasar-hukum-k3.html
https://lmsspada.kemdikbud.go.id/pluginfile.php/91375/mod_resource/content/2/Ruang%20Lingkup%20K3.pdf

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed