by

Getuk Goreng, Kuliner Khas Banyumas

Getuk biasanya ditemukan dalam versi basah seperti getuk lindri. Getuk ini memiliki citarasa manis lantaran terbuat dari bahan dasar singkong yang diberi bumbu gula merah ataupun juga gula kelapa yang ditambah dengan parutan kelapa. Tapi ada versi lain dari getuk ini di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah yang dikenal dengan getuk goreng.

Berdasarkan sejarahnya, makanan yang sangat unik ini ditemukan pada tahun 1918 oleh seseorang yang bernama Sanpirngad. Ia merupakan seorang penjual nasi keliling yang juga menawarkan jajanan pasar yang berada di daerah Sokaraja. Suatu waktu dagangannya tidak laku, karena tidak ingin rugi maka ia memutar otak dan mencari cara agar getuk yang dijualnya tersebut tidak basi. Cara yang ia tempuh yaitu dengan menggorengnya karena cara tersebut diyakini membuat makanan lebih awet karena bisa mengurangi kadar air, ternyata getuk yang dia goreng dan jual kembali mendapat respon yang baik dari para pembeli.

Pada 1967, Sarpingad meninggal dunia. Selanjutnya, menantu laki-lakinya yang bernama Tohirin meneruskan usaha tersebut. Di tangan Tohirin inilah, perkembangan getuk goreng tumbuh pesat. Karena ia fokus mengembangan usaha getuk goreng dengan meninggalkan usaha warung nasi rames yang selama ini jadi bisnis utamanya. Ia juga membranding produknya dengan namanya sendiri dan tidak lupa ditambah kata “Asli” penggunaan nama “Asli” sengaja dilakukannya setelah melihat banyak produsen getuk goreng lainnya yang bermunculan di wilayah Sokaraja.

Pada 1990-an, Tohirin menyerahkan pengelolaan usaha getuk goreng kepada ketiga anaknya: Hj. Ning Waryati, Slamet Lukito dan Hj. Warsuti. Di tangan ketiga anaknya inilah, bisnis getuk goreng tumbuh makin pesat. Pada masa inilah getuk goreng ini dipatenkan dengan nama Getuk Goreng Asli H. Tohirin. “Sejak 1997 kami sudah memiliki paten” ujar Ning Waryati, anak sulung Tohirin.

Dimasa Tohirin toko hanya berjumlah tiga , tetapi di masa ketiga anaknya toko berkembang menjadi sepuluh yaitu sembilan di Sokaraja dan yang satu lagi di Buntu, Banyumas. “Kami membuka outlet berdasarkan kebutuhan pasar” ujar Slamet Lukito, anak kedua H. Tohirin.

Satu hal yang menarik, meski permintaan pasar cukup tinggi, pemilik Toko Tohirin tetap mempertahankan proses produksi yang tradisional. Contohnya, untuk mengukus mereka masih menggunakan dandang dan tungku berbahan bakar kayu. Lalu, untuk membuat adonan getuk mereka masih menggunakan cara ditumbuk. Dan kemasanya pun masih menggunakan besek yang terbuat dari anyaman bambu. Mereka juga memiliki alat penggiling bertenaga diesel akan tetapi hanya digunakan jika permintaan terlalu banyak. “Mesin penggiling ini pun hanya digunakan bila permintaan banyak, sehari sampai lima kuintal lebih” kata Isnaini. Mahasiswi Manajemen Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta yang juga merupakan putri kedua Ning Waryati sekaligus pemilik toko Asli I. Ia juga berpendapat bahwa alat gilingnya hanya digunakan untuk memecah ketela bukan untuk menumbuknya sampai halus. “Gambarannya seperti sambel uleg dan sambel diblender, pasti enak yang diuleg”.

Proses produksi getuk goreng yang dijalankan keluarga ini sebenarnya sederhana. Ketela yang sudah dikupas dikukus sampai matang, lalu ditumbuk. Setelah halus baru dicampur dengan gula kelapa asli. Sebelum dicampur dengan adonan getuk, gula harus direbus. Nah, untuk merebus gula ada takarannya. Untuk 20 kg gula hanya digunakan satu gelas air. “Gulanya kami datangkan dari produsennya langsung dan kami sudah terikat perjanjian” ujar Isnaini. Dalam proses produksi, perusahaannya tidak pernah menggunakan bahan tambahan makanan yang sifatnya kimiawi seperti pengawet dan pewarna. “Dengan proses ini, produk kami sangat aman dikonsumsi sampai tujuh hari setelah diproduksi. Nah, yang kami jual di sini adalah buatan hari ini.” ujar Isnaini. Dalam pengemasanya juga masih tradisional yaitu menggunakan besek. “Besek lebih mengesankan tradisional dan lebih banyak dipilih” kata Isnaini. Dari segi harga getuk goreng ini dijual 19 ribu lebih mahal 1 ribu dari toko lainnya. “ Ya, ada harga ada kualitas,” ujar Isnaini tentang harga jual produknya yang 1 ribu lebih mahal.

Buat sobat yang ingin pulang membawa oleh-oleh berupa getuk goreng, banyak tempat yang bisa dituju. Lokasi pusatnya berada di sepanjang Jl. Sokaraja. Mengapa sobat harus membeli getuk goreng ini? karena kurang lengkap pulang berjelajah dari Banyumas tanpa membawa pulang oleh-oleh berupa getuk goreng. Nikmat disantap secara langsung, dipadukan dengan teh hangat ataupun juga kopi bahkan enak juga disandingkan dengan air putih.

sumber berita : swa.co.id/Yuyun Manopol & Gigin W.Utomo dan Travelingyuk.com

(Hafiz Rahadian Putra/H1D018058)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed