by

APAKAH OTAK BISA LEMOT KARENA MICIN ?

ngapakuy, Nur Dona Oktaviani – Banyak yang mengatakan “Jangan pakai micin nanti bisa bodoh” benarkah ?

Micin atau monosodium glutama (MSG) adalah garam sodium dari asam amino glutamate yang dapat memberikan rasa umami sehingga menambah cita rasa dari makanan. Monosodium glutamat  berbentuk kristal putih menyerupai garam. Asam amino glutamat yang masih berikatan dengan asam amino lain tidak memilki rasa akan tetapi jika dalam bentuk bebas menghasilkan rasa gurih. Komposisi monosodium glutamate yaitu 78% glutamate, 12% natrium, dan 10% air. Produksi monosodium glutamat banyak dihasilkan dari hasil fermentasi tepung, molasses, dan tebu dengan proses yang serupa dengan pembuatan minuman anggur. Monosodium glutamat banyak digunakan dalam makanan karena dapat membuat cita rasa makanan lebih umami tanpa menambahkan banyak bahan atau rempah lainnya. Meskipun bahan penyedap makanan ini dianggap efektif dan efisien penggunaannya masih diperdebatkan.

Penggunaan monosodium glutamat memiliki manfaat dan kerugian. Banyak rumah tangga yang menggunakan micin dalam rangka mengurangi penggunaan gula dan garam. Kandungan natrium dalam monosodium glutamat lebih rendah dari kandungan natrium pada garam yaitu sebanyak 36% sehingga micin dapat memberi rasa pada makanan penderita hipertensi. Monosodium glutamat yang ditambahkan pada makanan dapat mempercepat pencernaan makanan karena glutamat dapat merangsang produksi saliva dan makanan lebih mudah halus.

Glutamat ini memiliki reseptor yang terhubung dengan hipotalamus sehingga jika kadar glutamat terlalu tinggi di dalam tubuh maka otak akan terangsang secara berlebihan dan dapat mengakibatkan kematian neuron. Food Additive Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa food additive MSG memiliki acceptable additive daily intake (ADI) sebesar 120 mg/kg berat badan/hari.

Secara normal otak dilindungi oleh Blood Brain Barrier yang berfungsi mencegah glutamate berlebih dengan mempompakan glutamate ke sel – sel glia yang mengelilingi neuron. Neuron yang terpapar glutamate dengan jumlah yang besar akan mati. Glutamat berlebih akan membuka Ca2+ channel sehingga reaksi kimia akan meningkat dan mengawali perusakan sel. Terdapat beberapa tempat di otak yang tidak bisa dilindungi oleh Blood Brain Barrier yaitu di bagian hipotamamus tepatnya nucleus arcuatus dan nucleus ventromedial. Bagian yang rusak ini berperan dalam fungsi kognitif otak dan hormon.

Tubuh pada kondisi yang normal dapat mengolah MSG karena glutamate secara alami diproduksi usus sebagai hasil metabolism protein. Akan tetapi, kondisi dapat berbeda jika MSG berlebihan. Pada Tahun 1960-an terdapat kasus chinese restaurant syndrome. Sekelompok orang merasakan gejala tertentu setelah menyantap makanan khas Tiongkok. Gejala yang timbul seperti berkeringat, sakit kepala, mual, kelelahan, kulit kemerahan, mulut dan tenggorokan terasa tidak nyaman bahkan kebas. Sebagian orang lainnya merasakan gejala sesak napas, bengkak pada wajah, jantung berdebar, atau nyeri dada. Hal ini dirasakan setelah 2 jam mengkonsumsi makanan tersebut. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan MSG pada beberapa orang yang sensitif dapat menimbulkan gangguan ringan. Oleh karena itu, meskipun penggunaan monosodium glutamate di perbolehkan harus diperhatikan kadarnya agar tidak terjadi penggunaan yang berlebihan.

Sumber  :

Noviawaty.2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen membeli produk vetsin. Jurnal Orasi Bisnis Edisi ke-VIII. 37-43.

Ardyanto TD. 2004. MSG dan Kesehatan : sejarah, efek dan kontroversinya. Jurnal INOVASI.1(16):52-56.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed