by

Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Bidang Pertahanan dan Keamanan

Banyumas, Ngapakuy – Dalam dunia yang berkembang dengan cepat ini, kecerdasan buatan (AI) menjadi teknologi yang paling sering diadopsi ke berbagai sektor kehidupan manusia. Secara singkatnya, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan mengacu pada simulasi kecerdasan manusia dalam mesin yang diprogram untuk berpikir seperti manusia dan meniru tindakannya. Istilah ini juga dapat diterapkan pada mesin apa pun yang menunjukkan sifat-sifat yang terkait dengan pikiran manusia. Di mana prosesnya termasuk dengan pembelajaran (perolehan informasi dan aturan untuk menggunakan informasi), penalaran (menggunakan aturan untuk mencapai perkiraan kesimpulan yang pasti) dan koreksi diri.

Sejak pertama kali dicetuskan pada tahun 1950-an, AI mulai memberikan hasil yang nyata dalam satu dekade terakhir ini, khususnya lewat pembelajaran mesin (machine learning) serta turut meningkatkan ketersediaan data dan daya komputasi. Sebagai dampak dari kemajuan ini, sekarang AI dapat menyelesaikan masalah yang sangat spesifik.

Ekosistem AI sendiri meliputi tenaga kerja digital yang terampil dan manajemen yang berpengetahuan, berkemampuan digital untuk menangkap, menangani, dan mengeksploitasi data, serta landasan teknis yang berlandaskan kepercayaan, keamanan, dan keandalan.

Pada dunia industri militer saat ini banyak negara yang telah menyiapkan persenjataannya baik di udara, laut maupun darat. Salah satu sistem pertahanan yang sangat diperlukan adalah sistem pertahanan bawah laut.  Contoh dari Sistem pertahanan dan keamanan adalah kapal selam tanpa awak atau bahasa umumnya yaitu Autonomous Underwater Vehicle (AUV) dan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

Kebutuhan Indonesia akan teknologi yang aplikatif dan multifungsi pada pengembangan kapal selam dan pesawat tanpa awak menjadi suatu hal yang penting mengingat perkembangan teknologi nirawak / tanpa awak tengah mengalami modernisasi fungsi kearah Alat Utama Sistem Senjata (ALUTSISTA) yang diaplikasikan sebagai teknologi mata-mata maupun senjata otomatis.

Memperhatikan kegunaan dan manfaat dari kapal selam dan pesawat tanpa awak, maka negara kita sangat perlu mengembangkannya.

AUV (Autonomous Underwater Vehicle)

AUV pertama kali dibuat oleh Applied Phyics Laboratory (APL) di University of Washington,USA, pada akhir 1950-an karena kebutuhan untuk mendapatkan data oseanografi. Kemudian perkembangan AUV dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu pada tahap pertama tahun 1970an, dilakukan penyelidikan awal kegunaan sistem AUV, pada tahap kedua tahun 1970 – 1980 dibangun pengembangan teknologi dan eksperimen AUV, pada tahap ketiga tahun 1980 – 1990 dilakukan percobaan dengan menggunakan prototipe, pada tahap keempat tahun 1990 – 2000 pengembangan AUV berbasis TIK.

Sejak tahun 2000, AUV telah berkembang menjadi produk komersil. Sehingga untuk mendukung kemandirian bangsa dalam hal pemenuhan alat sistem pertahanan seharusnya kita dapat memproduksi kapal selam tanpa awak dengan berbagai spesifikasi. Dalam sebuah kapal selam tanpa awak memerlukan sebuat perangkat lunak seperti artificial intelligence (AI) yaitu salah satunya adalah sistem navigasi, panduan dan kendali.

Sistem navigasi itu sendiri merupakan koordinasi dari planning, sensing, dan pengendalian dalam melalui lintasan dari posisi awal hingga ke target tanpa terjadi tabrakan atau mampu menghindari rintangan yang ada. Berdasar pada posisi AUV, sistem panduan menghasilkan lintasan yang harus dilewati oleh AUV yang didapatkan dari sistem AUV, Selanjutnya sistem kendali mengatur gerak AUV agar tetap stabil baik dalam kondisi menyelam maupun mengikuti lintasan yang diinginkan.

UAV (Unmanned Aerial Vehicle )

Tidak hanya AUV, pesawat tanpa awak juga dapat diterapkan artificial intelligence berupa sistem navigation guidance control system.

Pesawat tanpa awak atau pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau UAV), adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot atau mampu mengendalikan dirinya sendiri, menggunakan hukum aerodinamika untuk mengangkat dirinya, bisa digunakan kembali dan mampu membawa muatan baik senjata maupun muatan lainnya.

Pesawat ini dikendalikan secara otomatis melalui program komputer yang dirancang, atau melalui kendali jarak jauh dari pilot yang terdapat di dataran atau di kendaraan lainnya. Awalnya UAV merupakan pesawat yang dikendalikan jarak jauh, namun system otomatis kini mulai banyak diterapkan. Penerapan ini dilakukan agar mengurangi resiko korban jikalau ada musuh menyerang dikarenakan AUV dan UAV tanpa awak dan bisa dikendalikan dari  darat.

AUV dan UAV bisa saling terintegrasi untuk saling mendukung dalam pertahanan dan keamanan negara, di mana AUV menjaga daerah laut dan UAV menjaga kawasan udara, AUV dan UAV dapat saling mentransfer data bilamana ada musuh yang dapat mengancam keaman negara. Dengan adanya pengembangan artificial intelligence ini, maka kemandirian sistem pertahanan dan keamanan negara dapat tercipta dengan baik, sehingga dapat mewujudkan sistem pertahanan dan keamanan yang solid bagi Bangsa Indonesia.

H1D020034 - Zaidan Nabil Diwangkara

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed