by

Wayang Kulit Gagrag Banyumasan

Wayang Kulit Gagrag Banyumasan adalah salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa, yang lebih dikenal dengan Pakeliran. Pakeliran mencakup banyak unsur seperti lakon wayang ( penyajian alur cerita dan maknanya), sabet (seluruh gerak wayang), catur (narasi dan cakapan), karawitan (gendhing sulukan dan properti panggung).

Pakeliran Gagrak Banyumasan, mempunyai nuansa kerakyatan yang kental sebagaimana karakter masyarakatnya, jujur dan terus terang, dan sifatnya lebih bebas, sederhana dan lugas. Pakeliran gagrak Banyumasan berbeda dengan pakeliran gaya kerakyatan daerah lain yang sebagain besar punah dan terpengaruh dengan gaya pedalangan Keraton.

Pedalangan Gagrag Banyumasan memperoleh pengaruh serta memiliki tatanan atau pakem dari seni pedalangan Surakarta dan Yogyakarta, tetapi gagrak Banyumasan memiliki ciri tersendiri dengan munculnya penokohan Bawor dengan lagu Kembang Lepang serta Gendhing Banyumasan. Seni pedalangan Gagrag Banyumasan ini kemudian dibakukan dan dilestarikan oleh pakar pedalangan Banyumas dalam paguyuban ganasidi yang diselenggarakan di Kawedanan Bukateja pada tanggal 21 April 1979.

Perkembangan seni pedalangan Banyumasan dipengaruhi oleh pengaruh Hindu, dengan berdirinya Mataram Hindu dengan serat Ramayana sampai adanya serat Gathutkacasraya oleh Mpu Panuluh dan Wayang Purwa, sama seperti perkembangan seni pedalangan lain di tanah air.

Pakeliran Gagrak Banyumasan juga dipengaruhi kuat oleh Gagrag Mataram ( Surakarta dan Yogyakarta), terutama melalui kawasan pesisir kidul, dan kemudian dikenal dengan seni pedalangan Banyumas Pesisiran atau Gagrak Kidul Gunung. Pengaruhnya dapat diketahui sampai dengan kisaran tahun 1920, dan terus berkembang melalui dalang trah Gombong, yaitu Ki Cerma sampai dengan Ki Dalang Menganti.

Sedangkan kawasan depan Banyumas yaitu dari Purbalingga kemudian menyusuri Sungai Serayu, menuju ke arah Barat mempunyai pakeliran tersendiri dan dikenal dengan Gagrak Lor Gunung, seperti berkembang melalui dalah trah Kesugihan diantaranya Ki Dalang Tutur, dan terus berkembang sampai dengan era Ki Dalang Sugih.

Ciri khas dalam wayang Gagrak Banyumasan adalah dalam penceritaannya lebih memperjelas peran rakyat kecil yang diungkapkan dalam tokoh punakawan seperti Bawor Dadi Ratu, Petruk Krama dan lain-lain. Wayang Gagrak Banyumasan lebih menonjolakn peran para muda dalam penyelesaian kasus-kasus dan permasalahan, misalnya sala Cerita Srikandi Mbareng Lengger yang merupakan terusan lakon Srenggini Takon Rama. Lakon ini mengungkapkan bahwa peran pemuda seperti Antasena dan Wisanggeni menjadi sangat sentral.

Rizki Fitria -H1D017037

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed